Postingan

CANDI PRINGAPUS

Gambar
Candinya kecil.. Ya tentu saja kecil apabila dibandingkan dengan Candi Borobudur .  Candi Pringapus terletak di Desa Pringapus, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tepatnya di lereng sebelah timur Gunung Sindoro. Seperti candi-candi “kecil” lainnya, Candi Pringapus berdiri sendiri di tengah halaman rumput yang asri dan terawat.  Pertamakali melihatnya, pandangan saya langsung tertuju pada relief yang ada di kanan-kiri pintu candi. Relief tersebut menggambarkan laki-laki merangkul perempuan dan keduanya mengenakan kain. Sosok laki-laki di relief tersebut barangkali adalah dewa. Karena di belakang kepalanya terlihat jelas terdapat prabha atau berkas sinar. Laki-laki ini, baik di kanan maupun kiri keduanya mengenakan abharana (perhiasan) berupa   makuta , kundala (anting-anting), graiveyaka dan hara (kalung), keyura (kelat bahu), serta kankana (gelang). Sementara pada sosok wanita, tidak ada prabha. Perhiasan yang terlihat yaitu kundala , graive...

Keramaian

Gambar
Namanya juga musim liburan, tempat wisata pasti ramai.. Kebetulan sore ini saya pergi ke Tebing Breksi dan Candi Ijo. Dua destinasi yang sepertinya menjadi tempat favorit para wisatawan saat datang ke wilayah Yogyakarta tercinta. Akses kesana dapat dikatakan mudah karena berada di jalan utama Jogja-Solo. Setelah belok kanan dari Prambanan, lurus, belok-belok, kemudian belok kiri masuk ke Desa Sambirejo jalanan menyempit dan menanjak. Tetapi tetap saja banyak sekali orang yang datang. Kendaraan berplat selain AB seperti AA, AD, AE, B, D, sampai Z dengan mudah saya jumpai  disana. Tapi tadi itu benar-benar ramai. Mungkin hal itu saya rasakan karena setelah beberapa kali ke Tebing Breksi dan (entah keberapa kali) ke Candi Ijo, tidak pernah seramai ini. Parkiran full, manusia bergawai dan bertongsis-pun ada dimana-mana. Semuanya senang, semuanya terlihat bahagia. Kenapa senang dan terlihat bahagia? Mungkin karena dua : 1. Tiket masuknya murah meriah.  Tebin...

Belajar Sastra

Gambar
Semester 5, ya saya sekarang semester 5. Dibilang tua masih ada yang lebih tua, dibilang muda adeknya udah 2 (hahaha terus kenapa?). Terus kenapa semester 5? Ya gapapa, tapi.. Awal semester ini bisa dibilang agak kacau (tapi akhirnya insyaallah kece kok :D). Karena ada perubahan kurikulun yang membuat mahasiswa bingung, lha dosennya juga bingung. Gak perlu saya bahas disini karena bikin pusing wkwk dan kurang lebih itulah yang membuat saya dan beberapa teman terdampar di kelas-kelas dari jurusan lain. SASTRA! Yah, walaupun kuliah di fakultas yang dulu namanya Fakultas Sastra tapi baru kali ini saya berkesempatan mengikuti kuliah di jurusan yang Sastra beneran. Apa yang saya ambil sebenarnya masih relevan dengan studi saya saat ini. Fyi, saya kuliah di Arkeologi  (ilmu ajaib yang mempelajari masa lalu dan dibantu banyak ilmu lain dari sejarah, agama, arsitektur, sampai geografi). Sementara matkul yang saya ambil di jurusan lain itu adalah Tata Bahasa Sanskerta, Pengantar Jawa...

Lupa?

Gambar
"Wes tak lali-lali, malah sansaya kelingan" Itu lah sepenggal lirik dari lagu Ketaman Asmara -nya Om Didi Kempot yang entah mengapa seringkali terngiang-ngiang di kepala saya. Bagi yang tidak tahu, kurang lebih artinya : "Sudah kucoba untuk melupakan, tapi malah semakin teringat". Kira-kira apa yaaa yang bikin begitu? Mantan? Ujian? Utang? hahaha semua orang punya masing-masing lah :) Jadi teringat saat saya masih kecil (mungkin awal-awal SD). Saat itu saya sedang ingin melupakan sesuatu, tapi kok ternyata tidak bisa. Lama-kelamaan saya sadar, bahwa kita tidak bisa dengan sengaja "melupakan" sesuatu. Berbeda dengan "lupa" yang bisa benar-benar membuat kita tidak ingat. Walaupun semakin tua katanya orang semakin cepat lupa alias kalo kebablasan bisa menjadi pikun, tapi sekali lagi lupa yang begitu bukan disengaja ya! (coba saja tanya pada orang yang lebih tua, contohnya ibu saya; kadang lupa mematikan kompor, lupa menaruh kunci motor, dsb -w...

Tanya Begini

Gambar
Teman saya bertanya, "Kenapa keraajaan Hindu tertua ada di Kutai?" Kata dosen saya "Hal itu masih sulit untuk dicari" Mungkin karena belum ada bukti-bukti Yang berupa tinggalan Arkeologi Jika laut sulit diseberangi Mengapa jadi begini? Hanya Sumatera dan Jawa yang punya bukti saat ini Tetapi lain kali harus tetap kita cari. 3/9/17 ( terinspirasi dari teman saya yang bertanya demikian)

Eks-pek-ta-si

Gambar
Menurut KBBI, Eks - pek -ta- si berarti pengharapan. Pengharapan buat saya artinya adalah sesuatu yang memiliki "tempat" khusus di benak kita. Sangat dinanti -nanti dan rasanya harus sesuai dengan apa yang dibayangkan . Namun pernahkah kita merasa suatu pengharapan itu tidak sesuai dengan ekspektasi? Tentu pernah. Misalnya, saat sudah sangat percaya diri mengerjakan ujian ternyata hasilnya nihil (kalau ini biasanya karena terlalu percaya diri, seriously!) atau saat teman kita menjanjikan sesuatu tapi apa yang ia bawakan malah berbanding 180° dengan angan-angan kita. Percayalah itu adalah hal yang biasa. Sesuatu terjadi tidak sesuai ekspektasi itu biasa. Karena apa? karena itulah hidup. Tentang sesuai ekspektasi atau tidak, semua itu adalah tentang bagaimana kita menyikapinya. Buat saya bersyukur adalah kuncinya. Sambat - sambat sedikit boleh lah ya, namanya juga manusia, bukan malaikat. Kecewa sedikit? Ya tidak apa-apa. Asalkan jangan kelewatan dan membuat orang-orang di...

LIMA TAHUN DI JOGJA

Gambar
Lima tahun tinggal di Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Yogyakarta membuat saya sadar akan beberapa hal. Namun, apa yang saya tulis disini tentu tidak semuanya. Mengapa? Karena Jogja menyimpan berjuta cerita, berjuta angan, berjuta mimpi, yang saya sendiri tidak sanggup menuliskannya dengan kata-kata. Saya tambahkan kutipan dari Sudjiwo Tejo yang saya pikir cocok dengan kisah saya bisa “tersasar” di Jogja (yang tidak akan saya jelaskan disini), “Pergi ke Jogja adalah caraku menertawakan kesibukan orang-orang Jakarta”. Inilah sedikit cerita dari saya, selamat membaca :) Sangat mudah untuk menjadi “medok” di Jogja Saya menetap di Jogja sejak SMA. Saya adalah murid baru dari SMP di Jakarta. Dengan logat saya yang sedikit berbeda dari teman-teman, mereka sangat tertarik. Terkadang saya diminta berbicara gaya Jakarta. Tapi saya tidak bisa. Saya malah terbawa arus, mengikuti gaya bicara halus dan “medok” khas Jogja. Sehingga saat bertemu atau menelpon teman-teman dari Jakarta y...